gajah makmur arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah makmur arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah makmur arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah pare arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

gajah pare arsitektur bali

Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, kontak person 087861141389 email : gajahpare@gmail.com.

Rabu, 22 Februari 2012

Pintu Ukiran Bali Digemari Pecinta Seni Berbagai Negara - All About Bali

Di desa Mulung, Sumita Gianyar Bali merupakan tempat yang sebagian penduduknya merupakan seniman ukiran kayu. Berbagai ukiran kayu dihasilkan dari desa ini.
 
Salah satunya adalah ukiran yang di pahat pada sebuah pintu. Ditangan seniman asal Mulung, Sumita ini pintu rumah di sulap menjadi barang seni yang bernilai tinggi. Telah  banyak yang menyukai jenis ukiran ini mulai dari penduduk local sampai mancanegara seperti Asia, Eropa hingga Amerika Serikat.
 
Salah satu pengerajin ukiran kayu ini adalah I Kadek Wiadnyana yang telah menekuni bidang ukiran pintu kayu ini sejak tahun 1987. Beliau memiliki tenaga pengukir sampai 75 orang. Bayangkan bagaimana larisnya permintaan jenis ukiran ini. 
 
Proses pembuatannya dimulai dari menggambar desain pada sebuah kertas dan kemudian di tempelkan pada bidang kayu yang masih utuh. Jenis desain ukirannya ada berbagai jenis seperti patra (jenis ukiran khas bali), motif bunga, pewayangan, hingga ukiran yang ekslusif sesuai dengan keinginan pembeli. Setelah penempelan desain pada bidang kayu, proses selanjutnya adalah mulai melakukan pengukiran. Alat bantu yang di gunakan adalah pahat berbagai ukiran.  dengan keahlian yang dimiliki turun temurun para pengukir mulai mengukir dengan santai sambil bersiul-siul dan menikmati pekerjaanya.
 
Waktu pengerjaan satu ukiran tergantung dari besarnya dan tingkat kerumitan dari ukiran yang akan dibuat. Biasanya satu pintu hanya diukir oleh satu orang sampai selesai, karena jika bagian-bagian ukiran di kerjakan oleh orang lain bisa memberikan sentuhan yang berbeda.
Harga ukiran ini beraneka ragam, dari mulai 2 juta rupiah dengan desain yang paling polos sampai dengan harga 100 juta rupiah.

Pintu bagi orang Bali

Pintu bagi orang Bali memiliki makna filosofis. Pintu tidak secara fisik sebagai penutup interior terhadap exterior, tetapi secara filosofis dimaknai sebagai penghubung bagi dunia manusia (mikrokosmos) terhadap seluruh jagad raya (makrokosmos). Pintu bukan sebagai penutup atau pemisah, tetapi sebagai pembuka dan penghubung manusia dengan sekitarnya.
Door for the people of Bali have philosophical meaning. The door is not physically as closing the interior of the Exterior, but philosophically understood as a liaison for the human world (microcosm) to the whole universe (the macrocosm). Not as a closing door or partition, but as an opening and connecting people with surroundings.

Bali dikenal memiliki segudang seniman ukir yang handal. Inspirasi berasal dari alam sekitar, sehingga bentuk atau motif ukiran yang muncul berupa motif tumbuhan, hewan, manusia, maupun motif ikon keagamaan. Di Bali ukiran ada dimana-mana baik berupa patung maupun ukiran pagar rumah, pintu pun tak luput menjadi 'korban' para seniman ukir Bali.
Bali is known to have a myriad of artists carving reliable. Inspiration comes from nature around, so the shape or pattern that appears in the form of carved motifs of plants, animals, humans, and the motive of religious icons. In Bali carvings are everywhere in the form of sculptures and carvings fence, the door was undoubtedly become 'victims' carved Balinese artists.
Pintu ukir Bali ini terbuat dari bahan kayu Jati (Tectona Grandis Sp.). Untuk daun pintu menggunakan bahan papan Jati tebal 3 cm. Ukiran hanya berada pada 1 (satu) sisi saja, dan biasanya sisi daun pintu yang menghadap ke luar.
Dimensi standar pintu ukir Bali adalah dengan ukuran lubang pintu 60 x 200 cm, dengan 2 (dua) buah daun pintu.
Warunk Arsitektur Online juga menerima pesanan pintu ukir Bali dengan desain dan ukuran khusus berdasarkan permintaan pembeli, tetapi ukuran terbesar pintu yang maksimal 110x200 cm dengan 2 (dua) daun pintu. Anda juga dapat memesan hanya daun pintu saja atau tanpa kusen.

The carving door made of teak (Tectona Grandis Sp.). Door leave use 3 (three) cm thick of teak wood planks. Carved only be in 1(one) side, or the leave door side facing outward.
Dimensions carved Balinese door is standard with the door hole size 60 x 200 cm, with 2 (two) door leaves.
Warunk Arsitektur Online also accept orders
for carving Balinese door with designs and special sizes on request of buyers, but the largest size 110x200 cm maximum door with 2 (two) door leaves You can also order just the door leaves only or without frames.
Tersedia berbagai macam motif, mulai dari motif tradisional Bali, tumbuhan dan bunga, hewan dan gambar manusia. Semua disesuaikan dengan selera konsumen. Ukiran gaya Bali berbeda dengan ukiran Jawa secara umum. Biasanya ukiran Bali cenderung lebih dalam pahatannya serta iramanya lebih lentur atau lebih lentik dbandingkan ukiran Jawa.
There are a variety of motives, ranging from traditional Balinese motifs, plants and flowers, animals and human images. All tailored to consumer tastes. Balinese carving carving differs from Java in general. Usually carved in Bali tend to be more flexible pahatannya and rhythm or more flicks dbandingkan Java carvings.

Selasa, 21 Februari 2012

Merajan

Jika bangunan inti hanya Padmasana, sebagaimana tradisi yang ada di luar Pulau Bali, maka selain Padmasana dibangun juga
  • pelinggih TAKSU sebagai niyasa pemujaan Dewi Saraswati yaitu saktinya Brahma yang memberikan manusia kemampuan belajar/ mengajar sehingga memiliki pengetahuan, dan
  • PANGRURAH sebagai niyasa pemujaan Bhatara Kala yaitu "putra" Siwa yang melindungi manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia.
Bangunan lain yang bersifat sebagai penunjang adalah:
  • PIYASAN yaitu bangunan tempat bersemayamnya niyasa Hyang Widhi ketika hari piodalan, di mana diletakkan juga sesajen (banten) yang dihaturkan.
  • BALE PAMEOSAN adalah tempat Sulinggih memuja.
Di Madya Mandala dibangun
  • BALE GONG, tempat gambelan,
  • BALE PESANDEKAN, tempat rapat atau menyiapkan diri dan menyiapkan banten sebelum masuk ke Utama Mandala.
  • BALE KULKUL yaitu tempat kulkul (kentongan) yang dipukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan dimulai atau sudah selesai.
Jika ingin membangun Sanggah pamerajan yang lengkap, bangunan niyasa yang ada dapat "turut" 3,5,7,9, dan 11. "Turut" artinya "berjumlah".
Turut
Jenis Pelinggih
Keterangan
Turut 3
1
Padmasari
2
Kemulan Rong tiga
3
Taksu
Kemulan Rong tiga adalah Hyang Guru atau Tiga Sakti: Brahma, Wisnu, Siwa. Jenis turut ini digunakan oleh tiap keluarga di rumahnya masing-masing
Turut 5
1
Padmasari
2
Kemulan Rong Tiga
3
Taksu
4
Pangrurah
5
Baturan Pengayengan
Baturan Pengayengan yaitu pelinggih untuk memuja ista dewata yang lain.
Turut 7
1
Padmasari
2
Kemulan Rong Tiga
3
Taksu
4
Pangrurah
5
Baturan Pengayengan
6
Pelinggih Limas Cari (Gunung Agung)
7
Limas Catu (Gunung Lebah)
Yang dimaksud dengan Gunung Agung dan Gunung Lebah (Batur) adalah symbolisme Hyang Widhi dalam manifestasi yang menciptakan "Rua Bineda" atau dua hal yang selalu berbeda misalnya: lelaki dan perempuan, siang dan malam, dharma dan adharma, dll.
Turut 9
1
Padmasari
2
Kemulan Rong Tiga
3
Taksu
4
Pangrurah
5
Baturan Pengayengan
6
Pelinggih Limas Cari (Gunung Agung)
7
Limas Catu (Gunung Lebah)
8
Pelinggih Sapta Petala
9
Manjangan Saluwang
Pelinggih Sapta Petala adalah pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi yang menyebabkan manusia dan mahluk lain dapat hidup. Manjangan Saluwang adalah pemujaan Mpu Kuturan sebagai Maha Rsi yang paling berjasa mempertahankan Agama Hindu di Bali.
Turut 11
1
Padmasari
2
Kemulan Rong Tiga
3
Taksu
4
Pangrurah
5
Baturan Pengayengan
6
Pelinggih Limas Cari (Gunung Agung)
7
Limas Catu (Gunung Lebah)
8
Pelinggih Sapta Petala
9
Manjangan Saluwang
10
Gedong Kawitan
11
Gedong Ibu
Gedong Kawitan adalah pemujaan leluhur laki-laki yang pertama kali datang di Bali dan yang mengembangkan keturunan. Gedong Ibu adalah pemujaan leluhur dari pihak wanita (istri Kawitan).

Cara menempatkan pelinggih-pelinggih itu sesuai dengan konsep Hulu dan Teben, di mana yang diletakkan di hulu adalah Padmasari/ Padmasana, sedangkan yang diletakkan di teben adalah pelinggih berikutnya sesuai dengan turut seperti diuraikan di atas. Bila halamannya terbatas sedangkan pelinggihnya perlu banyak, maka letak bangunan dapat berbentuk L yaitu berderet dari pojok hulu ke teben kiri dan keteben kanan.

Pura Merajan (Sanggah Pamerajan)

1 Kemulan Rong-3
2 Pelinggih Sedahan Pengerurah
3 Gedong Taksu
 
Sanggah Pamerajan
oleh: Bhagawan Dwija
Sanggah Pamerajan berasal dari kata: Sanggah, artinya Sanggar= tempat suci; Pamerajan berasal dari Praja= keluarga. Jadi Sanggah Pamerajan artinya = tempat suci bagi suatu keluarga tertentu. Untuk singkatnya orang menyebut secara pendek : Sanggah, atau Merajan. Tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.
Menurut bentuknya Sanggah Pamerajan, ada tiga versi :

a Yang dibangun mengikuti konsep Mpu Kuturan Trimurti maka pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari.
b Yang dibangun mengikuti konsep Danghyang Nirarta Tripurusha maka pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala
c Kombinasi keduanya   biasanya dibangun setelah abad ke-14, maka pelinggih Padmasana/ Padmasari tetap di ‘hulu’, namun di sebelahnya ada pelinggih Kemulan
Trimurti, adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Ang – Ung – Mang (AUM = OM) atau Brahma, Wisnu, Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi horizontal, dimana Brahma di arah Daksina, Wisnu di Uttara, dan Siwa di Madya.
Tripurusha, adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi vertikal, dimana Parama Siwa yang tertinggi kemudian karena terpengaruh Maya menjadilah Sada Siwa, dan Siwa.
Yang mana yang baik/ tepat ?
1. Menurut keyakinan anda masing-masing.
2. Namun ada acuan, bahwa konsep Mpu Kuturan disebarkan di Bali pada abad ke-11. Konsep Danghyang Nirarta dikembangkan di Bali sejak abad ke-14, berdasarkan wahyu yang diterima beliau di Purancak/ Jembrana.
3. Jadi menurut pendapat saya, memakai kedua konsep, atau kombinasi a dan b adalah yang tepat karena kita menghormati kedua-duanya, dan kedua-duanya itu benar, mengingat Sanghyang Widhi ada di mana-mana, baik dalam kedudukan horizontal maupun dalam kedudukan vertikal.
Namun demikian tidaklah berarti Sanggah Pamerajan yang sudah kita warisi berabad-abad lalu dibongkar, karena dalam setiap upacara, toh para Sulinggih sudah ‘ngastiti’ Bhatara Siwa Raditya (Tripurusha) dan juga Bhatara Hyang Guru (Trimurti)
1. Sanggah Pamerajan dibedakan menjadi 3 :
a. Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
b. Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’ (garis keturunan)
c. Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama),
2. Pelinggih di Sanggah Pamerajan (SP) :

a Sanggah Pamerajan Alit
  • Padmasari
  • Kemulan Rong Tiga
  • Taksu
b Sanggah Pamerajan Dadia
  • Padmasana
  • Kemulan Rong Tiga
  • Limas Cari
  • Limas Catu
  • Manjangan Saluang
  • Pangrurah
  • Saptapetala
  • Taksu
  • Raja Dewata
c Sanggah Pamerajan Panti Sanggah Pamerajan Dadia ditambah dengan Meru atau Gedong palinggih Bhatara Kawitan
Palinggih-palinggih lainnya yang tidak teridentifikasi seperti tersebut di atas, disebut ‘pelinggih wewidian’ yaitu pelinggih yang berhubungan dengan sejarah hidup leluhur di masa lampau, misalnya mendapat paica, atau kejumput oleh Ida Bhatara di Pura lain, misalnya dari Pura Pulaki, Penataran Ped, Bukit Sinunggal, dll, maka dibuatkanlah pelinggih khusus berbentuk limas atau sekepat sari.
Pada beberapa Sanggah Pamerajan sering dijumpai pelinggih wewidian ini jumlahnya puluhan, berjejer. Namun disayangkan karena leluhur kita di masa lampau terkadang lupa menuliskan riwayat hidup beliau, sehingga keturunannya sekarang banyak yang tidak tahu, pelinggih apa saja yang ada di Sanggah Pamerajannya.
Pelinggih-pelinggih umum yang terdapat di Sanggah Pamerajan adalah stana dalam niyasa Sanghyang Widhi dan roh leluhur yang dipuja :
1 Padmasana/ Padmasari Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.
2 Kemulan rong tiga Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru. Ada juga kemulan rong 1 (Sanghyang Tunggal), rong 2 (Ardanareswari), rong 4 (Catur Dewata), rong 5 (Panca Dewata)
3 Sapta Petala Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis : patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala. Sapta petala juga berisi patung naga sebagai symbol naga Basuki, pemberi kemakmuran.
4 Taksu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Bhatari Saraswati (sakti Brahma) penganugrah pengetahuan.
5 Limascari dan limascatu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari : pradana – purusha, rwa bhineda.
6 Pangrurah Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.
7 Manjangan Saluwang pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang mengajegkan Hindu di Bali.
8 Raja-Dewata pelinggih roh para leluhur (dibawah Bhatara Kawitan)

ASTA KOSALA KOSALI

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI.
Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan.
Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.
Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta: Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab: Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana.
Asta Bumi menyangkut pembuatan Pura atau Sanggah Pamerajan adalah sebagai berikut:
1 Tujuan Asta Bumi adalah
a Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi
b Mendapat vibrasi kesucian
c Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi
2 Luas halaman
a Memanjang dari Timur ke Barat ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran "depa" (bentangan tangan lurus dari kiri ke kanan dari pimpinan/klian/Jro Mangku atau orang suci lainnya): 2,3,4,5,6,7,11,12,14,15,19. Lebar dalam ukuran depa: 1,2,3,4,5,6,7,11,12,14,15. Alternatif total luas dalam depa: 2x1,3x2, 4x3, 5x4, 6x5, 7x6, 11x7, 12x11, 14x12, 15x14, 19x15.
b Memanjang dari Utara ke Selatan ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran depa: 4,5,6,13,18. Lebar dalam ukuran depa: 5,6,13. Alternatif total luas dalam depa: 6x5, 13x6, 18x13
Jika halaman sangat luas, misalnya untuk membangun Padmasana kepentingan orang banyak seperti Pura Jagatnatha, dll. boleh menggunakan kelipatan dari alternatif yang tertinggi. Kelipatan itu: 3 kali, 5 kali, 7 kali, 9 kali dan 11 kali.
Misalnya untuk halaman yang memanjang dari Timur ke Barat, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(19x15), 5x(19x15), 7x(19x15), 9x(19x15), 11x(19x15).
Untuk yang memanjang dari Utara ke Selatan, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(18x13), 5x(18x13), 7x(18x13), 9x(18x13), 11x(18x13).
HULU-TEBEN.
"Hulu" artinya arah yang utama, sedangkan "teben" artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu. Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, ada dua patokan mengenai hulu yaitu
  1. Arah Timur, dan
  2. Arah "Kaja"
Mengenai arah Timur bisa diketahui dengan tepat dengan menggunakan kompas.
Arah kaja adalah letak gunung atau bukit.
Cara menentukan lokasi Pura adalah menetapkan dengan tegas arah hulu, artinya jika memilih timur sebagai hulu agar benar-benar timur yang tepat, jangan melenceng ke timur laut atau tenggara. Jika memilih kaja sebagai hulu, selain melihat gunung atau bukit juga perhatikan kompas. Misalnya jika gunung berada di utara maka hulu agar benar-benar di arah utara sesuai kompas, jangan sampai melenceng ke arah timur laut atau barat laut, demikian seterusnya. Pemilihan arah hulu yang tepat sesuai dengan mata angin akan memudahkan membangun pelinggih-pelinggih dan memudahkan pelaksanaan upacara dan arah pemujaan.
BENTUK HALAMAN.
Bentuk halaman pura adalah persegi empat sesuai dengan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan terdahulu. Jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya ukuran panjang atau lebar di sisi kanan - kiri berbeda, sehingga membentuk halaman seperti trapesium, segi tiga, lingkaran, dll. Hal ini berkaitan dengan tatanan pemujaan dan pelaksanaan upacara, misalnya pengaturan meletakkan umbul-umbul, penjor, dan Asta kosala.
PEMBAGIAN HALAMAN.
Untuk Pura yang besar menggunakan pembagian halaman menjadi tiga yaitu:
  1. Utama Mandala
  2. Madya Mandala
  3. Nista Mandala.
Ketiga Mandala itu merupakan satu kesatuan, artinya tidak terpisah-pisah, dan tetap berbentuk segi empat; tidak boleh hanya utama mandala saja yang persegi empat, tetapi madya mandala dan nista mandala berbentuk lain.
Utama mandala adalah bagian yang paling sakral terletak paling hulu, menggunakan ukuran Asta Bumi;
Madya Mandala adalah bagian tengah, menggunakan ukuran Asta Bumi yang sama dengan utama Mandala;
Nista Mandala adalah bagian teben, boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan nista mandala hanya saja lebar halaman tetap harus sama.
Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya bale gong, perantenan (dapur suci), bale kulkul, bale pesandekan (tempat menata banten), bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll. Di nista mandala ada pelinggih
"Lebuh" yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, dll.
Batas antara nista mandala dengan madya mandala adalah "Candi Bentar" dan batas antara madya mandala dengan utama mandala adalah "Gelung Kori", sedangkan nista mandala tidak diberi pagar atau batas dan langsung berhadapan dengan jalan.
MENETAPKAN PEMEDAL.
Pemedal adalah gerbang, baik berupa candi bentar maupun gelung kori. Cara menetapkan pemedal sebagai berikut: 1) Ukur lebar halaman dengan tali. 2) Panjang tali itu dibagi tiga. 3) Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah "as" pemedal. Dari as ini ditetapkan lebarnya gerbang apakah setengah depa atau satu depa, tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi bentar dan gelung kori. Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini adalah arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal. Misalnya hulu halaman Pura ada di Timur, maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara, kecuali di utara ada gunung maka tebennya selatan, demikian seterusnya. Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menentukan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.

JARAK ANTAR PELINGGIH.
Jarak antar pelinggih yang satu dengan yang lain dapat menggunakan ukuran satu "depa", kelipatan satu depa, "telung tapak nyirang", atau kelipatan telung tapak nyirang. Pengertian "depa" sudah dikemukakan di depan, yaitu jarak bentangan tangan lurus dari ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan. Yang dimaksud dengan "telung tampak nyirang" adalah jarak dari susunan rapat tiga tapak kaki kanan dan kiri (dua kanan dan satu kiri) ditambah satu tapak kaki kiri dalam posisi melintang. Baik depa maupun tapak yang digunakan adalah dari orang yang dituakan dalam kelompok "penyungsung" (pemuja) Pura. Jarak antar pelinggih dapat juga menggunakan kombinasi dari depa dan tapak, tergantung dari harmonisasi letak pelinggih dan luas halaman yang tersedia. Jarak antar pelinggih juga mencakup jarak dari tembok batas ke pelinggih-pelinggih. Ketentuan-ketentuan jarak itu juga tidak selalu konsisten, misalnya jarak antar pelinggih menggunakan tapak, sedangkan jarak ke "Piasan" dan Pemedal (gerbang) menggunakan depa. Ketentuan ini juga berlaku bagi bangunan dan pelinggih di Madya Mandala.
PELINGGIH (STANA) YANG DIBANGUN. Jika bangunan inti hanya Padmasana, sebagaimana tradisi yang ada di luar Pulau Bali, maka selain Padmasana dibangun juga pelinggih TAKSU sebagai niyasa pemujaan Dewi Saraswati yaitu saktinya Brahma yang memberikan manusia kemampuan belajar/mengajar sehingga memiliki pengetahuan, dan PANGRURAH sebagai niyasa pemujaan Bhatara Kala yaitu "putra" Siwa yang melindungi manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia. Bangunan lain yang bersifat sebagai penunjang adalah: PIYASAN yaitu bangunan tempat bersemayamnya niyasa Hyang Widhi ketika hari piodalan, di mana diletakkan juga sesajen (banten) yang dihaturkan. BALE PAMEOSAN adalah tempat Sulinggih memuja. Di Madya Mandala dibangun BALE GONG, tempat gambelan, BALE PESANDEKAN, tempat rapat atau menyiapkan diri dan menyiapkan banten sebelum masuk ke Utama Mandala. BALE KULKUL yaitu tempat kulkul (kentongan) yang dipukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan dimulai atau sudah selesai.
Jika ingin membangun Sanggah pamerajan yang lengkap, bangunan niyasa yang ada dapat "turut" 3,5,7,9, dan 11. "Turut" artinya "berjumlah". Turut 3: Padmasari, Kemulan Rong tiga (pelinggih Hyang Guru atau Tiga Sakti: Brahma, Wisnu, Siwa), dan Taksu. Jenis ini digunakan oleh tiap keluarga di rumahnya masing-masing. Turut 5: Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu, Pangrurah, "Baturan Pengayengan" yaitu pelinggih untuk memuja ista dewata yang lain. Turut 7: adalah turut 5 ditambah dengan pelinggih Limas cari (Gunung Agung) dan Limas Catu (Gunung Lebah). Yang dimaksud dengan Gunung Agung dan Gunung Lebah (Batur) adalah symbolisme Hyang Widhi dalam manifestsi yang menciptakan "Rua Bineda" atau dua hal yang selalu berbeda misalnya: lelaki dan perempuan, siang dan malam, dharma dan adharma, dll. Turut 9 adalah turut 7 ditambah dengan pelinggih Sapta Petala dan Manjangan Saluwang. Pelinggih Sapta Petala adalah pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi yang menyebabkan manusia dan mahluk lain dapat hidup. Manjangan Saluwang adalah pemujaan Mpu Kuturan sebagai Maha Rsi yang paling berjasa mempertahankan Agama Hindu di Bali. Turut 11 adalah turut 9 ditambah pelinggih Gedong Kawitan dan Gedong Ibu. Gedong Kawitan adalah pemujaan leluhur laki-laki yang pertama kali datang di Bali dan yang mengembangkan keturunan. Gedong Ibu adalah pemujaan leluhur dari pihak wanita (istri Kawitan).
Cara menempatkan pelinggih-pelinggih itu sesuai dengan konsep Hulu dan Teben, di mana yang diletakkan di hulu adalah Padmasari/Padmasana, sedangkan yang diletakkan di teben adalah pelinggih berikutnya sesuai dengan turut seperti diuraikan di atas. Bila halamannya terbatas sedangkan pelinggihnya perlu banyak, maka letak bangunan dapat berbentuk L yaitu berderet dari pojok hulu ke teben kiri dan keteben kanan.
Sumber: Bhagawan Dwija

Bangunan diproses penjiwaannya sebagai suatu kelahiran ke bumi dengan upakara sebagaimana layaknya suatu kelahiran dan kehidupan. Upacara ngulihin karang adalah suatu upakara semacam dikawinkan antara bangunan dengan pemilik-pemakainya.
Membangun Pura dengan Kesadaran Mendasar
Oleh N. Gelebet
Menyukuri kesejahteraan karunia Hyang Widhi, dibangunlah pura sebagai tempat pemujaan dalam manifestasinya, spirit geginan dan roh leluhur yang diharapkan menyatu dengan-Nya untuk kerahayuan jagat. Pembangunan tempat pemujaan berkembang dari seonggok batu untuk panjatan memuja yang di langit, meru bayangan gunung, padma kemanunggalan dan kini penampilan jamak semarak dengan kemanjaan teknologi.

Kesadaran mendasar dalam membangun pura memang seharusnya melestarikan landasan konseptualnya. Peranan dinas, instansi yang mengambil alih peran krama, dengan pengalihan hak atas bukti pura dan kebijakan meniadakan prosesi pratima yang ditinggal krama yang tidak lagi ngayah kini tanpa karang ayahan, merupakan gejala kesadaran palsu yang terjadi dalam beberapa kasus.

Proses Membangun Pura

Berawal dari nyanggra pengempon, pengemong dan penyiwi, dilanjutkan dengan nyanyan dialog ritual dengan sesuhunan yang distanakan di pura yang dibangun. Tujuannya, untuk mendapatkan kesepakatan atas kesepahaman sekala-niskala apa dan bagaimana membangun pura. Kemudian dengan penetapan program dan penjadwalannya sesuai subadewasa dilakukan nyikut, ngruak karang dan nyangga ngurip gegulak, ngadegang sanggar wiswakarma. Keberadaan gegulak dipandang sebagai acuan hidup modul pendimensian, setelah melalui ritus pengurip dan pengaci, nantinya wajib di-pralina setelah bangunan selesai di-plaspas. Dengan penjiwaan sejak awal, keseimbangan atma, angga lan khaya wewangunan dapat terwujud.
Selanjutnya ngelakar sesuai keperluan dan ketentuan penggunaan bahan untuk bangunan pura yang masing-masing peruntukannya (parahyangan, pawongan, palemahan) ada ketentuan jenis kayunya. Di mana dan bagaimana mendapatkannya, melalui permakluman atau permohonan di ulun tegal yang mewilayahi. Pantangan kayu tumbuh di sempadan sungai, setra, di batas, rebah tersangkut, melintang jalan, tunggak wareng dan lainnya wajib ditaati sebagai suatu keyakinan.
Pekerjaan komponen konstruksi dilakukan di jaba sisi pura atau di suatu tempat yang wajar. Pelaku tukang wajib menaati tata cara kramaning tukang sesuai ketentuan dan arahan undagi manggalaning wewangunan. Dalam proses pengerjaan, setiap tahap tertentu melalui ritus upakara yang dipimpin undagi, tan keneng cuntaka, namun wajib menaati brata ke-undagi-an. Dalam menjalankan profesinya, undagi atas nama (ngelinggihang) Hyang Wiswakarma. Keberadaannya serentak menyandang kapican, kawikon dan katakson, bagi undagi yang telah menjalani prosesnya sesuai ketentuan tatwa, jnana dan upakara.
Bahan bangunan, tukang dan pekerja mengutamakan dari wilayah sekitar. Peranan teknologi bukan hal yang ditabukan. Menghindari pelaksanaan sistem tender yang sulit dipertanggungjawabkan secara kualitas, legalitas ritual maupun proses penjiwaannya. Dengan diabaikannya filsafat, konseptual dan tatwa acuan tata cara membangun pura, sulit diharapkan unsur penjiwaannya sehingga megah maraknya bangunan pura yang kini diwacanakan sebagai kehampaan tanpa taksu karismatis.
Pemugaran Pura-pura kuno yang menggusur katakson-nya batu-batu nunggul megalitikum, mengembangkan belasan pelinggih sepertinya mengalami kemunduran monis yang dikembalikan ke polis. Memang berpeluang untuk tampil megah meriah di kulit luar, namun hampa tanpa magis power yang menjiwai.
Pembangunan pura tanpa pedoman Asta Kosali, tanpa acuan gegulak modul dimensi, cenderung tampil sebagai bangunan rekreasi berlanskap buatan berornamen mengada-ada.

Pekerjaan Konstruksi

Setelah nyanggra, nyanjan, nyikut dan nglakar, pekerjaan konstruksi dilanjutkan dengan ngaug, ngakit dan ngasren yang diakhiri dengan ngurip/melaspas dan ngenteg linggih dengan rangkaiannya sesuai tingkatan, runut dan runtutannya yang rumit. Peranan undagi dari tahap 1 s.d. 8 dalam satu paket: atma, angga, khaya seutuhnya sesuai ketentuan khusus Asta Kosali yang sulit dipahami profesi lain.
Kemudian ngenteg linggih berdasarkan tegak wali manut tengeran, sasih atau wewaran (solar, lunar atau galaxy system). Pelaksanaannya sesuai ketentuan dudonan upacara dengan upakara dan pamuput-nya masing-masing. Peranan undagi dalam rangkaian yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat ini, sebatas pengamatan uji fungsi apakah semua unit, bagian dan komponen sudah berfungsi sesuai dengan hakikat akidah ruang ritual yang direncanakan.
Pekerjaan konstruksi ngaug sunduk saat posisi matahari di mana bayangan garis atas lubang depan berimpit dengan garis bawah lubang belakang adalah saat tepat yang ditetapkan. Posisi ngaug betaka beti meru, pancung ngakit atap limasan nasarin dan mendem pedagingan adalah ritus-ritus yang diyakini sebagai penjiwaan yang mampu mengantisipai ancaman bencana gempa, petir dan badai angin ngelinus puting beliung. Dengan kemampuan tahan bencana menjadikan karisma taksu suatu bangunan semakin diyakini keunggulan kebenarannya yang memang terbukti dalam kajian arsitektural tradisional.
Ngasren wewangunan (pekerjaan finishing) tidak dibenarkan dengan menghilangkan sifat-sifat fisis, chemis dan karakter estetika bahan alami yang membawa keindahan alami kodrati. Pewarnaan justru merusak di saat usangnya yang semakin parah manakala perawatan diabaikan.

Ngurip Wewangunan

Prosesnya sejak awal, ngruak karang alih fungsi dari karang tegal menjadi karang wawangunan atau mandala pura. Ukuran pekarangan dengan pengurip asta musti, ukuran halaman dengan pengurip tampak ngandang, ukurang bangunan dengan pengurip nyari, guli, guli madu, useran jari, dan bagian-bagian dari modul dimensi tiang. Tata letak dengan urip pengider, urip perwujudan, pengurip perwujudan, pengurip gegulak, urip dina wawaran dan urip pengurip-urip pemakuh. Makna pengurip wewangunan saat melaspas adalah menghidupkan dengan penjiwaan sebagai bangunan sesuai namanya.
Bahan-bahan bangunan telah dimatikan saat pengadaannya menjadi bahan bangunan. Saat upacara melaspas, jiwanya dikembalikan ke asalnya masing-masing. Dilakukan upacara peleburan dan dihidupkan (ngurip) dengan fungsi baru yang namanya bangunan. Bangunan inilah yang kemudian diproses penjiwaannya sebagai suatu kelahiran ke bumi dengan upakara sebagaimana layaknya suatu kelahiran dan kehidupan. Upacara ngulihin karang adalah suatu upakara semacam dikawinkan antara bangunan dengan pemilik-pemakainya.
Klasik, etnik dan unik memang, namun itulah pengurip penjiwaan sepanjang proses membangun. Bagi pandangan sekuler tentunya sebagai sesuatu yang berlebihan, mitos dan dogma yang dipandang sebagai pemborosan sia-sia.
Benarkah dengan diabaikannya ritus pengurip menyebabkan terjadinya pembangunan tanpa taksu yang semarak dalam fisik namun hampa dalam kejiwaannya? Bagaimana mungkin penjiwaan terjadi dalam pembangunan tanpa peran undagi, tanpa gegulak, yang dibangun dengan sistem tender.
Raibnya bukti pura, ditinggalkannya ayahan pratima dan menipisnya peranan krama, dapat memicu terjadinya kesadaran palsu membangun pura sistem proyek yang ditenderkan.
Sumber: Terimakasih kepada Bali Post

“Jineng” bangunan bali

screenshot0063.jpg Jineng atau sering juga disebut glebeg (ada perbedaan antara ukuran dan seni arsitektur nya) yang berfungsi sebagai tempat penyimpan padi bagi masyarakat bali. Sebagai lambang kemakmuran dan fungsi lainnya adalah sebagai tempat bersantai dibawahnya.
Bila ada upacara manusia yadnya (misalkan potong gigi, pawiwahan/menikah bagi masyarakat hindu bali) bangunan ini dapat difungsikan sebagai tempat hidangan.
Biasanya sering ambil proyek rumah tempat tinggal berlantai, namun untuk bulan bulan ini sedang sibuknya menyiapkan bangunan jineng ini.
Bangunan kecil dan unik ini dominan mempergunakan kayu. Untuk harganya jelas berbeda2 karena terdapat beberapa model. Ada yang full memakai ukiran, ada juga yang polos.
Salah satu contoh gambaran pengerjaannya adalah sebagai berikut, namun untuk foto finishingnya tidak ada, karena waktu penyerahan saya tidak ada disana.










pagi 1.jpg
2.jpg
3.jpg
4.jpg
Jineng ini dibuat dan dirakit dirumah saya dulu. Kemudian bila sudah klop tinggal dikirim kelokasi. Di lokasi proyek cuman mengirim 6 orang pekerja, dan hanya membutuhkan waktu 8 hari kerja langsung finish.

BANGUNAN TAHAN GEMPA

Tercermin dalam bangunan Bali/ Gazebo untuk bangunan Knock Down.
Coba perhatikan, berapa kejadian Gempa di Bali, Apakah bangunan Bali akan roboh oleh Gempa, ternyata tidak, hal ini dibuktikan Ketika di Bali terjadi gempa pada 1976 dan menghancurkan bangunan-bangunan di Seririt (Buleleng) kecuali bangunan-bangunan tradisional. Kenapa Hal itu bisa terjadi …?, bangunan tradisional Bali yang memiliki struktur tiang dan dinding terpisah, tidak hancur ketika terjadi gempa. Hanya temboknya retak-retak atau rebah, tetapi atap dan tiang-tiang bangunannya masih tetap tegak berdiri. Rupanya konstruksi tiang bangunan tradisional dan balai-balainya masih tetap tegak berdiri. Rupanya konstruksi tiang bangunan tradisional dan balai-balainya yang dirakit dengan sistem pasak, memudahkan konstruksi mengikuti gerakan gempa, sistem pasak bisa makin longgar, sehingga konstruksi tiang bangunan tidak mudah patah.
Ketika bangunan-bangunan tradisional Bali banyak yang selamat dari bencana gempa tersebut, penduduk Bali seakan diingatkan kembali akan konsep Tri Samaya yang telah ada di Bali sejak dulu. Konsep Tri Samaya merupakan perjanjian atau kesepakatan berdasarkan tiga batasan waktu. Dalam konsep ini, khususnya berkaitan dengan mewujudkan suatu bangunan, penduduk Bali diharapkan melihat kondisi di masa lalu (atita), prediksi ke masa mendatang (nagata), sehingga saat ini (wartamana) dapat mewujudkan suatu rancang bangun yang baik. Jika keputusan membangun telah dilakukan, maka analisis yang akan diterapkan di masyarakat harus disesuaikan lagi dengan tempat (desa), waktu (kala) dan keadaan (patra), sehingga bisa bermanfaat secara maksimal bagi masyarakat di masing-masing tempat atau wilayah di Bali.
usg-006 usg-011
Kembali lagi pada Arsitektur Bangunan Bali yang menggunakan Tiang atau istilahnya Saka di Bali, coba perhatikan bagaimana hubungan / rakitan-rakitan menggunakan rakitan yang tidak dipaku/ dibaut secara permanen, namun semua dihubungkan dengan rakitan yang menggunakan Pasak, Lait / pengunci dari kayu, yang jika terjadi gempa Bangunan Bali bersifat Elastis, tidak kaku/ rigid.Hal ini mengakibatkan jika terjadi gempa yang besar, paling-paling pasak/ laitnya yang kendor yang perlu dikokohkan lagi. 
Hal ini banyak dimanfaatkan bangunan Knocdown Rumah Bali / Gazebo mengikuti konsep Bangunan Bali yang keberadaaanya Flexibel bisa dipindah-pindah dengan mudah dan sifat bangunannya Elastis dari ancaman Gempa.
us-73c ush-003
Perletakan dari bangunan Gazebo atau di Bali disebut Bale Bengong atau Bale Saka, biasanya ditempatkan diareal Taman Tengah, Belakang atau ditaruh didepan sebagai tempat duduk-duduk santai yang bisa dimanfaatkan sebagai Bangunan Serba Guna. Dan apabila akan dipindahkan dari satu tempat ketempat lainnya, klo bangunan itu kecil dan tidak dipinah jauh bisa langsung diangkat dipindahkan dengan bantuan berapa orang Pekerja atau Tetangga disamping rumahnya. Jika akan dipindahkan jauh, karena bangunan biasanya tidak menggunakan paku, bisa lait/ pengunci dari kayu tersebut dibuka dan bangunannya dipindahkan berdasarkan elemen-elemen atau bagian tertentu.Hal ini membuat keberadaan gazebo akan berfungsi plexible dan anti Gempa.

ARSITEKTUR PERSEMBAHAN

Arsitektur secara umum memang tidak bisa dimasukkan kedalam kelompok senirupa - kendati pada akhirnya akan dilihat keindahan bentuk - karena didalamnya terdapat pakem-pakem teknis dan rasa ruang yang sama berat timbangannya dengan seni menata wajah. Pun, fungsi arsitektur untuk berbagai kegiatan dan berbagai pemakai akan melahirkan bentuk dan wajah yang berbeda pula sehingga dapat dikatakan bahwa arsitektur adalah hasil olahan berbagai kepentingan (seni, teknis dan rasa) untuk dipergunakan memenuhi salah satu dari 5 kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan, papan-ruang kegiatan - arsitektur, kesehatan dan pendidikan). Lebih khusus lagi Arsitektur Tradisional Bali tidak saja menganut pakem seni, teknis dan rasa ruang namun didalamnya terdapat tatanan filosofi adat dan agama Hindu. Prosesi mengolah bahan bangunan- misalnya kayu yang berasal dari pohon tertentu - hingga menjadi elemen bangunan merupakan tahap-tahap yang mesti dilakoni lewat nilai filosofi, adat dan agama. Pohon dengan ketinggian tertentu yang saat ditebang menimpa sungai, misalnya, tidak bisa dipergunakan sebagai bahan bangunan karena akan menimbulkan akibat buruk bagi pemakainya. Aturan adat dan agama seperti ini tentu pada hakekatnya adalah memberi perlindungan terhadap alam lingkungan untuk memperhatikan sempadan sungai sehingga kelestarian akan terjaga.
Dalam Arsitektur Tradisional Bali sangat banyak aturan dan tatanan adat dan filosofi agama yang mesti dipahami dan dianut oleh seorang arsitek tradisional (arsitek Bali disebut Undagi). Karena itu, seorang Undagi pada dasarnya adalah manusia utama yang mesti mampu memahami seni, komposisi, proporsi, teknis, rasa ruang, filosofi agama, aturan adat (awig-awig) dan bahkan sepatutnya memahami puja mantra karena Sang Undagi berhak melakukan prosesi keagamaan saat memulai pekerjaan (upacara Ngeruak Karang), masa pelaksanaan hingga peresmian bangunan (upacara Pamelaspas). Dalam melaksanakan rancangannya, sang Undagi dibantu oleh tenaga pelaksana yang ahli dibidangnya seperti tukang batu, kayu, struktur dan tukang ukir yang disebut Sangging. Jika di Bali terlihat bentuk bangunan Bali yang beraneka ragam, hal itu disebabkan karena fungsi, pemakai dan daerahnya yang berbeda sehingga wujud tampilannya-pun berbeda. Semua aturan dan tatanan tentang arsitektur tradisional Bali terhimpun dalam naskah kuno berupa lontar, antara lain: Asta Bhumi, Asta Kosala-Kosali dan berbagai lontar tentang tata cara pelaksanaan upacara pada bangunan.
Bertolak dari berbagai peninggalan arsitektur Bali masa lalu dan bentuk pengembangannya kini, beberapa undagi (arsitek Bali) mengatakan setidaknya tatanan Arsitektur Tradisional Bali terbagi dalam 5 (lima) kelompok besar, yaitu:
    a. Astha Kosalaning Dewa untuk Bangunan Suci / Pura.
    b. Astha Kosalaning Desa untuk Tata lingkungan Desa.
    c. Astha Kosalaning Tetambakan untuk bangunan batas pekarangan.
    d. Astha Kosalaning Pakubon untuk bangunan perumahan.
    e. Astha Kosalaning Wong Pejah untuk bangunan kematian / Ngaben.
Dari 5 kelompok ini, arsitektur tradisional Bali diterjemahkan lebih luas lagi sesuai dengan fungsi spesifik, lapis sosial penggunanya dan ciri daerah masing-masing yang melahirkan bentuk beragam.
Kendati berpedoman pada banyak aturan, terdapat aturan dasar yang berlaku umum dalam menyusun rancangan satu bangunan Bali, antara lain:
    a. Filosofi Ruang: Dalam filosofi agama Hindu dikenal adanya tiga lapisan nilai yaitu "utama-madya-nista" sebagai tingkatan pertama, kedua dan ketiga, yang dijadikan pedoman dalam menetapkan tingkatan mutu suatu kegiatan. Tata ruang arsitektur tradisional Bali-pun berpedoman pada nilai tersebut yang pada akhirnya memperolah 9 ruang didapat dari paduan tiga nilai sumbu spirit (timur - barat) dan tiga nilai sumbu alam (utara - selatan).
    b. Dimensi: Hal umum yang berlaku dalam membuat rancangan bangunan Bali adalah dimensi atau ukuran ruang dan elemen bangunan. Patokan yang dipergunakan dalam menentukan ukuran bangunan adalah konfigurasi bagian tangan dan kaki dari pemilik, undagi atau pendeta yang disebut dengan "sikut" atau "gegulak".
    c. Upacara: Pembangunan semua jenis bangunan Bali dibarengi dengan upacara menurut aturan agama Hindu, mulai sejak menebang pohon, awal pelaksanaan hingga saat peresmian penggunaan bangunan, lalu secara berkala tetap dilakukan upacara saat bangunan tersebut dihuni dan hingga saat akhir jika dibongkar dilakukan satu upacara "pralina" atau peleburan.
Dari tiga hal ini sudah dapat dipahami bahwa arsitektur tradisional Bali memiliki tempat khusus dalam tatanan Hindu dan dipandang sebagai sesuatu yang "hidup" karena melalui proses lahir-hidup-mati atau "utpeti-stiti-pralina"

Gajah Yang Gadingnya Cacat Sebelah.


Gajah Yang Gadingnya Cacat Sebelah.
Ketika saya  pulang kampung, saya melihat adik saya sedang  merenovasi bagian depan rumah kami. Walau yang dirombak cuma sedikit, namun tak ayal membuat rumah yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Penuh bahan bangunan dan debu. Saat itulah saya sempat mendongak  ke langit- langit bangunan Bale Gede peninggalan ayah saya. Bale Gede adalah bangunan traditional Bali yang memiliki saka (tiang penyangga) sebanyak 12 buah, berfungsi untuk melakukan persiapan berbagai upacara, menerima tamu maupun aktifitas harian lainnya.
Sebuah patung kayu berbentuk seekor gajah terlihat kokoh menyangga atap bangunan itu. Bukan sembarang gajah. Karena selain memiliki belalai yang panjang, gajah ini juga memiliki sayap layaknya burung dan  mahkota api  serupa mahkota naga. Gajah ini memiliki gading berupa taring yang cacat sebelah jika kita perhatikan. Walaupun penuh debu, tak pelak pemandangan itu membuat perasaan saya menjadi sangat tersentuh.  Pemandangan yang membangkitkan ingatan akan masa kanak-kanak yang penuh kebahagiaan dan penuh hasrat keingintahuan. Sebuah patung kayu yang menjadi salah satu milestone alias penanda kilometer penting dalam perjalanan kehidupan saya.
Patung gajah itu merupakan salah satu karya seorang Sangging  yang sangat tersohor pada jamannya yang bernama Pekak Oper.  Sangging adalah gelar profesi bagi seniman ukir di Bali. Karena keahlian mengukir ini dikembangkan secara turun temurun dalam keluarga,  maka “Sangging”pun juga menjadi nama klan atau marga para seniman ukir.  Seniman-seniman ukir terbaik di Bali umumnya memang berasal dari klan Sangging.
Patung itu dibuat atas pesanan ayah saya ketika saya masih kanak-kanak. Sekitar tahun 1972 atau 1973. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas satu atau kelas dua di Sekolah Dasar. Beliau juga yang mengukir hampir semua ukiran kayu yang menyangga  bangunan maupun tempat suci di rumah kami. Pada jaman itu, kebanyakan para seniman seperti Pekak Oper mengerjakan orderan pelanggannya dari rumah ke rumah tanpa memiliki bengkel kerja ataupun galeri sendiri. Untuk menyelesaikan semua karya ukirannya, Pekak Oper tinggal di rumah kami selama berbulan-bulan.  Makan, tidur dan bekerja selayaknya salah satu anggota keluarga di rumah. Sehingga kami pernah  mengira bahwa Pekak Oper adalah salah seorang dari kakek kami sendiri. Karena selain bekerja secara professional, perhatian dan kasih sayangnya juga dicurahkan kepada kami semua. Motivasi, cara pandang terhadap kehidupan, kebebasan berekspressi dan semangat yang menjiwainyapun sangat  terasa  dalam setiap karya seninya. Walau  Pekak Oper meninggalkan banyak jejak karyanya di rumah saya, namun bagi saya Patung Gajah bergading cacat sebelah itulah yang memberikan kenangan terbaik saya akan sang maestro.
Walaupun tidak memiliki darah Sangging dalam nadi saya, namun saya memiliki ketertarikan yang amat sangat  pada seni ukir Bali.  Hampir setiap hari saya  selalu menyempatkan diri melihat  Pekak Oper bekerja di garase rumah. Buat saya, semuanya tampak menakjubkan. Bagaimana beliau mampu menjalankan alat ukir yang bernama pahat dalam berbagai ukuran, sedemikian mulus dan rapinya pada bahan kayu yang sedemikian keras. Bagaimana beliau  menciptkan suatu bentuk tanpa ada blueprintnya sama sekali. Tercipta begitu saja.  Tidak ada pola. Tidak ada contoh yang bisa ditiru ataupun dicontek. Semua design ada dalam kepalanya. Ada dalam imajinasinya!!. Benar-benar luarbiasa!.
Setahap demi setahap beliau  mengetokkan palunya pada pangkal pahat. Menciptakan seulir demi seulir batang tanaman yang indah, sehelai demi sehelai daun yang gemulai, sekelopak bunga,  benang sari, kuncup bunga, barong, patra ulanda, kuta mesir dan berbagai patra-patra (motif) ukir lainnya. Begitu tekun. Begitu tenggelam dalam  alam pikirnya yang tak seorangpun bisa mengunjunginya sebelum sempat beliau terjemahkan ke dalam bentuk karya seni. Seolah-olah bukan tangannyalah yang sedang mencipta. Namun jiwanya. Saya benar-benar terpesona oleh kemampuan beliau. Dan saat itu saya bercita-cita menjadi seorang tukang ukir kelak jika saya dewasa.
Suatu hari sepulang sekolah saya mampir lagi ke garase. Ternyata Pekak Oper sedang tidak ada di tempat kerjanya. Rupanya beliau sedang dipanggil makan siang oleh Ibu saya. Saya melihat sebuah calon patung gajah yang  belum selesai dikerjakan oleh beliau dalam beberapa hari terakhir ini. Karena senimannya sedang istirahat, maka patung yang belum selesai itupun tergeletak begitu saja di lantai garase bersama limbah kayu dan peralatan ukir yang sedang dipergunakan.  Sayapun lebih mendekat agar bisa melihat lebih jelas lagi hasil karya sang Sangging.
Sungguh aneh. Belalai yang panjang, mata yang besar & melotot mirip wajah singa. Saya pikir ia memiliki taring, bukan gading. Bagaimana mungkin seekor gajah memiliki wajah sesangar seekor singa? Gajah apa ini? Lebih ajaib lagi, ternyata gajah itupun memiliki sayap seperti burung dan memiliki mahkota api seperti naga. Bentuk binatang itu sangat bagus dan ajaib.  Namun walaupun indah, tapi terus terang saya merasa gajah itu sangat aneh.
Lalu saya sentuh wajah patung itu. Disebelahnya saya lihat sepasang pahat dan palu. Tiba-tiba keinginan saya untuk mencoba mengukir muncul. Sedikit ragu-ragu,namun akhirnya saya putuskan untuk mengambil pahat itu. Saya pikir meminjam pahat itu sebentar barangkali  tidak apa-apa. Saya lalu mencoba memahat pada gading gajah Pekak Oper yang menurut saya itu adalah taring singa. Awalnya saya kira kayu itu cukup empuk. Karena saya lihat Pekak Oper sangat mudah memahatnya. Begitu mengalun mengikuti alur dan urat kayu. Wah! Keras!. Ternyata mengukir kayu itu sangat keras dan butuh tenaga banyak. Apalagi buat tenaga kanak-kanak. Saya mencoba memukul pahat itu lebih keras lagi agar pahat bisa bergerak. Tetap keras. Alih-alih bergerak mengikuti ide dalam kepala saya, sekarang pahat itu malah meleset di kayu.  Semakin keras saya pukul dengan palu malah semakin bergeser arah pahatnya. Uppss! Saat itulah saya baru mengerti, bahwa mengukir itu tidak sama dengan menggambar. Jika kita salah menggambar, dengan mudah kita bisa menghapusnya dan mengulang kembali menggambar yang benar di kertas itu. Tapi jika kita salah mengukir kayu , kita tak pernah bisa menghapusnya dan memahatnya kembali dengan benar. Seperti nasi yang telah menjadi bubur!. Jadi, hati-hatilah jika mengukir sesuatu!.
Ternyata saya telah merusak gading gajah itu. Adduh! Bagaimana ini. Ayah saya pasti marah besar atas perbuatan saya itu. Hanya satu buah perbuatan. Tapi kesalahannya banyak sekali.
Pertama, ayah saya pasti marah karena saya telah merusak sebelah gading gajah itu sehingga membuatnya tidak simetris. Itu  akan membuat kwalitas karya ukir itu menurun.
Kedua, saya telah mengotak-atik karya orang lain tanpa ijin. Itu namanya lancang dan ayah saya pasti akan sangat marah  atas perbuatan tidak sopan itu.
Ketiga, saya belum melepas pakaian sekolah saya dan belum makan siang tapi telah langsung bermain. Pasti ayah saya akan  menghukum saya atas  tindakan tidak disiplin ini.
Keempat, saya akan ketahuan telah mempergunakan pahat. Bisa jadi ayah saya juga akan marah. Ayah saya sangat protektif terhadap anaknya dan tak pernah mengijinkan saya dan saudara saya yang belum mencapai umur tertentu bermain dengan benda tajam seperti pisau, gunting, pahat dan sebagainya.
Memikirkan itu, saya mulai panik sendiri dan ketakutan. Saya yakin, ayah saya sangat kecewa akan perbuatan saya. Saya rasa ayah saya juga merasa tidak enak hati pada Pekak  Oper atas kenakalan saya. Merusak karya seninya tanpa sepengetahuannya. Saya sudah pasrah untuk menerima hukuman apapun yang diberikan.  Karena tidak mampu memikirkan jalan yang terbaik lagi, akhirnya saya hanya duduk diam di garase sambil menunggu kedatangan Pekak Oper. Apesnya, sehabis makan siang  ternyata Pekak Oper datang ke garase sekaligus bersama dengan ayah saya. Detik demi detik saya alami dengan penuh ketegangan. Seperti yang saya duga, ayah saya dan Pekak Oper sangat terkejut melihat saya sedang duduk di dekat patung  gajah itu.  Sejenak beliau tediam dengan pandangan menyelidik apa yang sedang saya lakukan dengan patung gajah itu, yang membuat saya merasa semakin tersiksa. Tidak tahan dengan situasinya, akhirnya saya memutuskan untuk mengaku “ Saya telah mengukir sebelah dari gading gajah ini” Kata saya terbata-bata tanpa berani memandang lagi kearah wajah ayah saya.
Saya melihat ayah saya mengangkat patung gajah itu untuk melihat apa yang terjadi. Saya tetap menunduk. Tanpa saya duga,  ternyata Pekak Oper malah tertawa terbahak-bahak. “ Gajah ini menjadi semakin bertaksu (maksudnya berwibawa) dengan taring  miring sebelah”.  Akhirnya saya dengar ayah saya tertawa. Bahkan menghadiahkan saya sebongkah kayu untuk saya ukir. Dan Pekak Operpun meminjamkan satu set peralatan ukirnya untuk saya pakai. Saya lalu mulai mencoba belajar mengukir dengan dorongan Pekak Oper. Dan hasilnya… amburadul tanpa bentuk!!!.
Walaupun saya tidak berhasil menjadi tukang ukir, namun bagi saya Pekak Oper tetap telah memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup saya. Menurutnya kreativitas jangan pernah dibendung. Apapun imajinasi yang ada di kepala kita selayaknya diekspresikan. Jangan pernah takut salah atau merasa buruk. Karena karya seni tidak pernah mengenal kata buruk. Kecuali jika dilakukan dengan niat buruk. Pada prinsipnya melakukan karya seni adalah proses menuangkan imajinasi dalam otak kita ke dalam bentuk yang bisa ditangkap orang lain. Hingga sekarang, saya masih terngiang ngiang akan kalimat beliau. Saya sangat berterimakasih atas kebebasan jiwa dan pemikiran yang dialirkan ke dalam diri saya.

Sumber dari : http://nimadesriandani.wordpress.com

Jineng – rumah kayu beratap ilalang

Jineng – cara bersantai ala Bali…

Jineng atau Klumpu, adalah salah satu bangunan tradisional Bali yang pada umumnya berfungsi sebagai lumbung tempat penyimpanan padi, palawija atau hasil panen lainnya. Jika anda pernah bertandang ke rumah penduduk Bali, maka rumah traditional ini bukanlah pemandangan baru lagi, karena hampir setiap pekarangan memilikinya. Namun karena bentuknya yang unik, belakangan Jineng ini mulai populer dialihfungsikan sebagai tambahan ruang tidur atau untuk tempat bersantai bersama keluarga dan para sahabat atau kerabat lainnya. Jineng yang dimodifikasi dan ditempatkan di halaman rumah juga dapat menjadi element taman tropis bergaya Bali yang sangat menarik.
Jineng berukuran 3×4 m ini dirancang oleh arsitek Ketut Gede Indra Wipraja dari Bali, dengan tetap menggunakan prinsip-prinsip Jineng sebagai bangunan traditional dan menyesuaikan ketinggian dan ukurannya agar lebih sesuai untuk tempat bersantai. Disokong oleh 4 buah saka (tiang penyangga) terbuat dari kayu merbau, memiliki 2 lantai yang terbuat dari kayu pohon kelapa yang telah diserut halus. Lantai bawah sangat sesuai untuk duduk-duduk, ngobrol, menerima tamu cara santai, makan lesehan beramai-ramai dsb, sedangkan lantai atas untuk ruang tidur atau beristirahat. Atap ilalang yang dipasang sangat rapi dan tebal, membuat bagian dalam bangunan ini menjadi sangat sejuk dan menyenangkan, bahkan di siang hari yang terik sekalipun. Selain pintu yang bisa terbuka lebar, jineng juga dilengkapi dengan 2 jendela, di samping dan di belakang untuk membantu agar sirkulasi udara bertambah baik.
Sebagian dari tiang penyokong bangunan ini diukir sederhana bergaya Bali untuk mempercantik penampilannya. Semua material pembangun Jineng ini termasuk kayu dan alang-alangnya dibawa langsung dari Bali, dan karena dirancang dengan system buka pasang, maka sangat memudahkan untuk didirikan hanya dalam waktu 1-2 hari.

Sumber dari : http://nimadesriandani.wordpress.com

Mengamati Ukiran Kekarangan Pada Bangunan Bali.


Mengamati Ukiran Kekarangan Pada Bangunan Bali.
Pulang selalu menjadi saat yang paling menyenangkan buat saya. Karena bukan saja senang bisa mengobati kerinduan pada keluarga, juga senang karena bisa mengkondisikan kembali jiwa saya pada suasana rumah  yang penuh kedamaian, ketenangan dan kasih sayang. Walau hanya sejenak.  Kembali ke rumah setelah berada  di luar, juga membuat saya lebih perhatian terhadap hal-hal yang dulu tidak pernah saya perhatikan. Salah satunya adalah terhadap ukiran pada batu paras (cadas).  Entah  kenapa sekarang jadi terlihat istimewa di mata saya. Padahal dulu hanya pemandangan sehari-hari yang tidak memiliki keistimewaan apapun.
Tiba-tiba saya terkenang wajah guru menggambar saya waktu di SMP dulu. Beliau mengajarkan bagaimana membuat berbagai Patra (pola, pattern – dalam Bahasa Bali) dan stilir dalam lukisan tradisional Bali. Lebih dari 30 tahun yang lalu. Namun saya masih ingat beberapa pelajarannya. Walaupun sebagian lagi sudah lupa. Pola-pola itu diterapkan juga pada  ukiran-ukiran batu paras (cadas) yang digunakan untuk menyusun bangunan di rumah. Semuanya memiliki patra-patra yang sebagian masih saya ingat namanya, namun sebagian lagi tidak. Saya ingat bagaimana ketika masih kecil saya ikut berjongkok mengamati Sangging (tukang ukir) bekerja,  sambil bertanya ini dan itu mengenai cara mengukir.
Diantara pola seni ukir yang menarik itu adalah apa yang umum di Bali disebut dengan Karang. Karang  atau Kekarangan mengacu pada ukiran dengan bentuk kepala binatang. Kebanyakan Ukiran Kebanyakan kekarangan hanya menggambarkan bagian rahang atas ke atas  dengan posisi yang lebih menonjol dan tidak memiliki rahang bawah. Namun ada juga yang memiliki wajah lengkap (rahang atas & rahang bawah).
Karang Guak
Sesuai dengan namanya – Guak adalah nama burung (Gagak- dalam Bahasa Bali), maka ukiran ini memang berbentuk kepala burung. Tepatnya paruh atas burung ke atas. Karang Guak ini saya temukan diapplikasikan pada sudut-sudut bangunan pada posisi yang lebih tinggi. Barangkali karena Guak adalah burung dan bisa terbang, maka wajarlah jika menempati posisi atas. Burung Gagak disini digambarkan memiliki paruh berbentuk segitiga yang lancip, dilengkapi dengan 3-4 gigi-gigi tajam masing-masing di kiri dan di kanan.
Guak dalam kekarangan ini juga memiliki hidung  dan dahi yang agak menonjol, pipi yang  membulat dan menyatu dengan telinga dan rambut yang distilir. Bola mata yang menonjol dan kelopak mata yang berlipat serta alis mata yang indah dan menarik, terlihat serupa dengan rata-rata pada ukiran kekarangan yang lain. Bagian bawah dari Karang Guak ini digambarkan hanya berupa  dedaunan yang biasa disebut dengan Simbar (karena dianggap mewakili bentuk daun pakis Simbar Menjangan). Posisinya tidak semenonjol bagian atasnya.
Karang Tapel
Tapel, dalam bahasa Bali artinya Topeng (Mask). Pada kekarangan ini, Tapel atau topeng merupakan point utama. Juga hanya digambarkan dari  rahang atas ke atas. Topeng ini,  seperti manusia memiliki  4 gigi seri  yang rata dan sepasang gigi taring yang sedikit lebih panjang dari gigi serinya.  Tapel memiliki bibir yang tebal dan pipi yang bulat, digambarkan dengan cara menarik garis yang melengkung dan membentuk spiral.  Hidung besar sedikit pesek, dengan mata  yang belo. Tapel juga memiliki kelopak mata yang lebar dan alis mata yang tebal. Porsi wajah bagian atas ini memiliki posisi yang lebih menonjol dalam ukiran Bali.
Lalu bagian bawahnya, berupa lidah yang menjulur, disertai dengan sulur dedaunan yang disebut sebagai Pipid atau pidpid.  Pipid dalam bahasa Bali berarti daun pakis Boston. Sulur pipid ini biasanya dibuat bertingkat 3 – 4 jenjang.
Karang Asti.
Karang Asti disebut juga dengan karang Gajah. Bentuknya berupa rahang atas dan juga rahang bawah gajah beserta belalainya. Karang Gajah juga digambarkan memiliki gading, pipi sempit, mata kecil dan telinga yang lebar. Jika kita perhatikan Karang Asti/Gajah biasanya diletakkan di posisi dasar bangunan, dengan pertimbangan bahwa Gajah itu adalah binatang yang besar dan kuat, sehingga mampu menyangga bangunan dengan baik. Karena posisinya yang paling bawah, maka karang Asti menjadi bagian bangunan yang paling berlumut di musim hujan ini.  Saya kesulitan mencari beberapa Karang Asti yang lebih kering agar lebih mudah melihat pola ukirannya, namun sayang basah semua.

Sumber dari http://nimadesriandani.wordpress.com

Arsitektur Bali

Pengertian bangunan secara umum ialah segala hasil perwujudan manusia dalam bentuk bangunan, yang mengandung keutuhan/ kesatuan dengan agama (ritual) dan kehidupan budaya masyarakat. Yang tercakup dalam bangunan yaitu :
  1. Kemampuan merancang, dan membangun.
  2. Mewujudkan seni bangunannya menurut bermacam- macam prinsip seperti : bentuk, konstruksi. bahan, fungsi dan keindahan
Bangunan Bali yaitu setiap bangunan yang berdasarkan tattwa (falsafah) agama Hindu
Filosofis bangunan Bali ialah adanya hubungan yang erat dan hidup antara bhuwana alit dengan bhuwana agung yang perwujudannya dilandasi oleh ketentuan agama Hindu.

Pengelompokan bangunan Bali meliputi
  1. Bangunan suci/ keagamaan.
  2. Bangunan Kepara/ adat.
Beberapa ketentuan- ketentuan bangunan Bali:
  1. Tempat/ denah berdasarkan Lontar Asta Bhumi.
  2. Bangunan/ konstruksinya berdasarkan lontar Asta Dewa dan lontar Asta Kosala/ Kosali.
  3. Bahan- bahan/ ramuan berdasarkan lontar Asta Dewa dan lontar Asta Kosala/ Kosali, seperti : kayu, ijuk, alang- alang, batu alam, bata dan sebagainya
Bangunan Bali mengandung ciri- ciri :
  1. Pengider- ideran (Catur Loka Phala/ Asta Dala).
  2. Tri Mandala/ Tri Loka
  3. Adanya upacara sangaskara/ penyucian.
  4. Mengandung simbul- simbul sesuai dengan ajaran agama Hindu, (misalnya: Sanghyang Acintya, Naga, Padma dan sebagainya).
Jenis- jenis bangunan Bali
  1. Bangunan suci/ keagamaan ialah segala pelinggih- pelinggih yang disucikan, termasuk patung- patung/ arca- arca serta perlengkapannya.
  2. Bangunan Kepara/ adat adalah bangunan- bangunan perumahan, adat, dan bangunan Bali lainnya.
Bentuk dan nama bangunan Bali
Bentuk dan nama bangunan Bali berdasarkan ketentuan- ketentuan lontar Asta Dewa, Asta Kosala/ Kosali dan Lontar Wisma Karma.
Tata laksana dan penyucian bangunan Bali antara lain :
  1. Ngeruwak Karang.
  2. Nyukat Karang.
  3. Nasarin.
  4. Memakuh.
  5. Ngurip- urip.
Sesuai dengan lontar Asta Dewa, Asta Kosala/ Kosali, Dewa Tattwa dan lontar- lontar lainnya.
Ketertiban fungsi dan penggunaannya
  1. Semua wujud bangunan Bali hendaknya mengikuti ketentuan- ketentuan tersebut di atas.
  2. Fungsi dan penggunaannya ditetapkan pada proporsi yang sewajarnya
sumber Babad Bali

GAJAH PARA ARSITEKTUR BANGUNAN BALI



Kondisi dan Tutorial Order
Kami menjamin bahwa jasa yang kami jual dan tawarkan kepada anda adalah pelayanan jasa yang betul-betul menjunjung tinggi nilai kejujuran dengan disiplin yang tinggi,
Jika anda sepenuhnya memiliki keinginan untuk membangun atau merenovasi bangunan arsitektur bali, Rumah Bali, Ukiran Bali anda bisa menghubugi kami di :
 
GAJAH PARA (GAPAR UKIR)
Marketing Office: JL. Mulung, Sumita, Gianyar, Bali
Hp: 087861141389
I Kadek Wiadnyana
Email : gajahpare@gmail.com



Anda dapat menghubungi kami Via telpon atau SMS dan Email atau datang langsung ke alamat kami.
Konsultasi GRATIS.
Hubungi kami jika anda mau bertanya dan membangun bangunan stil bali, seperti mrajan, bale dangin, bale dauh,dan bale daje, kami juga menyediakan pepayas bale,seperti ring-ring, kencut,dan payas kolong.

Terimakasih atas Kunjungan anda kepada kami, kami sangat senang dapat bekerjasama dengan anda.